MENJADI TIANG DAN DASAR KEBENARAN

Senin, 15 Agustus 2022

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : 1 Timotius 3 : 14 – 16

Revolusi industri 4.0 mendigitalisasi banyak aspek kehidupan kita. Hal ini membawa manfaat bear sekaligus dampak negatif. Melalui skype dan zoom orang dapat melakukan rapat, seminar, belajar bahkan beribadah bersama banyak orang lain tanpa bertemu di satu tempat yang sama. Pada sisi lain, kita juga memasuki era paska-kebenaran (post-truth), di mana kebohongan (hoax) dianggap sebagai kebenaran. Kebohongan di(re-)produksi dan disebarkan dengan cepat dan terus-menerus, menyasar sisi emosional dan kepercayaan penerimanya. Ini mudah menyulut konflik, memakan korban dan merugikan masyarakat atau negara. Ada juga fenomena metaverse atau alam semesta fiktif, di mana orang menciptakan “kehidupan lain” di ruang virtual. Kebenaran (-kebenaran) menjadi makin relatif, menjauh dan sulit ditemukan. Orang yang mengabdi pada kebenaran pun semakin langka.

Surat 1 Timotius 3:14-16 mengingatkan jemaat tentang jatidirinya sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran di tengah kompleksitas kehidupan saat itu. Jemaat harus hidup sebagai keluarga Allah dengan bertekun dalam ajaran yang benar; berkomitmen pada keadilan, ketertiban dan ketentraman hidup jemaat dan masyarakat sehari-hari; serta menghormati para pemimpin yang melayani dengan benar. Dengan cara ini jemaat terus beribadah dan memberitakan Kristus, Anak Allah yang hidup, di tengah bangsa-bangsa

Kita semua, baik individu maupun kelompok (jemaat/gereja), adalah pengabdi-pengabdi kebenaran yang hidup di era post-truth dan metaverse. Apapun tugas dan posisi kita masing-masing di gereja dan masyarakat, kita terpanggil untuk setia memelihara jatidiri sebagai pengabdi dan pemberita kebenaran, melalui sikap dan gaya hidup sehari-hari. Yaitu sikap hidup yang meneladani Yesus, Tuhan kita, dalam melayani sesama manusia. Terutama melayani mereka yang terpinggir dan menderita karena ketidakadilan, diskriminasi dan kekerasan.