PERBANDINGAN YANG MENDORONG PERTOBATAN

Kamis, 1 September 2022

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Hagai 2 : 1 – 4

Lewat perantaraan Hagai, Tuhan berfirman kepada Zerubabel, Yosua, dan bangsa itu, bunyinya; 1). “Masih adakah di antara kamu yang telah melihat Rumah ini dalam kemegahannya semula? 2). Dan bagaimanakah kamu lihat keadaannya sekarang? 3). Bukankah keadaannya di matamu seperti tidak ada artinya? Apakah maksud Tuhan dengan pernyataan itu? Tuhan berfirman kepada mereka yang berkepentingan dengan berfungsinya Bait Allah agar mereka meneruskan pembangunannya. Pekerjaan itu berhubungan erat dengan keberimanan umat.

Sebelumnya dikatakan bahwa tugas utama nabi Hagai adalah mendorong umat agar segera melanjutkan pembangunan Bait Allah yang terhenti. Dengan mengajak para pemimpin dan umat menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Para pemimpin dan umat pastilah terkejut dan sedih, karena hal itu terjadi akibat hukuman Tuhan atas dosa-dosa mereka. Kesadaran akan dosa dan kemauan untuk bertobat biasanya timbul cepat pada diri orang jika masa lalu yang baik diperbandingkan dengan masa kini yang terpuruk.

Tuhan berfirman kepada Hagai, untuk meyakinkan umat Israel akan tugas mereka yakni mengerjakan pembangunan Bait Allah. Namun perlu diperhatikan bahwa pendekatan seperti ini hanya bisa berhasil, jika dilakukan oleh pemimpin yang jujur terhadap orang lain dan diri sendiri. Mengapa? Ingat, ada orang yang mau menjadi pemimpin, namun dengan cara yang salah, mereka tidak segan-segan menjelek-jelekkan keadaan dan lawan-lawannya. Mereka tidak mengakui adanya kebaikan saat ini. Mereka suka mencari-cari kesalahan lawannya, dan selalu mengganggap diri benar. Ada ungkapan: “manusia tidak dapat hidup di lingkungan yang sama sekali jahat, tanpa ada hal yang benar dan baik”. Jika suatu bangsa yang masih bisa bertahan, maka disana pasti ada hal yang baik dan benar. Jujurlah!