APA UNTUNGNYA?

Kamis, 4 Agustus 2022

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Maleakhi 3 : 13 – 15

Prinsip untung rugi seringkali mewarnai pola kehidupan yang dijalani manusia, yang mana segala sesuatu diukur dari untung atau rugi buat dirinya. Prinsip ini menunjukkan bahwa manusia seringkali hanya berpusat pada dirinya sendiri. Bahkan prinsip tersebut juga terkadang digunakan dalam relasi dengan Tuhan khususnya dalam peribadahan. Contohnya, kadangkala muncul pertanyaan tentang apa untungnya beribadah kepada Tuhan. Apa untungnya menghabiskan waktu untuk berjumpa dengan Tuhan, sedangkan waktu tersebut dapat dipergunakan untuk bekerja dan mengumpulkan harta yang lebih menguntungkan. Belum lagi prinsip untung rugi juga digunakan dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan. Manusia terkadang mulai menghitung-hitung persembahan yang diberikan sehingga menyimpulkan untuk memberi sedikit saja bukan yang terbaik buat Tuhan. Persembahan juga menjadi alat untuk tawar menawar dengan Tuhan, jika memberi semakin banyak maka ia akan berharap diberikan lebih banyak atau berlipat kali.

Hal ini juga dilakukan oleh bangsa Israel yang mempertanyakan tentang apa untungnya “memelihara apa yang harus dilakukan terhadap Tuhan” (ay.14). Mereka membandingkan dengan sikap orang-orang fasik yang menurut pandangan mereka tetap saja merasakan hal yang sama bahkan lebih baik dari mereka yang mengaku lebih setia pada Tuhan. Mereka merasa tidak ada untungnya untuk tetap setia melakukan kehendak Tuhan.

Memperbandingkan situasi kita dengan orang lain membuat kita mempertanyakan keadilan Tuhan. Kita lupa bahwa ketaatan dan kesetiaan menghasilkan berkat dan anugerah dari Tuhan meskipun kita tidak pernah mengetahui waktunya. Sebagaimana firman Tuhan “dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Korintus 15:58), demikianlah hendaknya kita menjalani kehidupan dalam tetap terus dalam ketaatan dan kesetiaan karena semua itu tidak akan pernah sia-sia.