POJOK REFLEKSI BERSAMA ALLAH

Jumat, 1 Juli 2022

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Ratapan 3 : 20 – 30

Seorang ibu pernah bercerita kepada saya bagaimana karakter keempat anak-anaknya yang berbeda satu dengan yang lain ketika dimarahi oleh kedua orang tuanya. Anak pertama, akan datang meminta maaf, anak ketiga akan melawan dengan kepolosannya, anak keempat hanya cuek saja. Namun, yang menarik adalah sikap anak kedua, yang jika dimarahi maka sang anak akan pergi sejenak, duduk di sudut rumah, berdiam diri dan merenung lalu beberapa saat kemudian datang meminta maaf dan kembali bercanda, berbicara dan beraktivitas seolah tidak terjadi apa-apa.

Jika didengar sepintas mungkin terkesan anak ini anak yang suka ngambek, namun jika dipahami lebih dalam lagi maka sikap yang ia lakukan adalah bukti bahwa ia berusaha menenangkan hati, merefleksikan diri dan mencoba menyadari kesalahan melalui hal yang terjadi. Yeremia melakukan hal itu, dalam pembacaan pagi kita mengetahui bagaimana Yeremia mengungkapkan apa yang terjadi dalam dirinya, kemudian ia memikirkan dan merefleksikan apa yang Tuhan buat atas hidupnya (20-21) dalam posisi tertekan itulah Yeremia melihat kasih Allah yang tak berkesudahan (22), pengharapannya menjadi baru untuk menantikan pertolongan Tuhan (23-26); Yeremia menyadari bahwa penting adanya kuk yang Tuhan berikan agar mampu menghayati kasih Allah (29).

Pojok refleksi atau sudut kesendirian bersama Allah menjadi penting untuk kita pilih dikala pergumulan berat kita alami atau kesalahan besar kita lakukan. Duduk menyendiri dan berdiam diri terkadang menjadi cara ampuh untuk memberi ruang kepada Tuhan untuk memberikan “beban” kesadaran akan hidup yang dialami. Mari memahami cara Tuhan mendewasakan iman kita.