Senin, 13 Juni 2022
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Amos 5 : 21 – 24
Sering kita kecewa ketika melihat banyak orang Kristen yang tidak antusias dalam beribadah secara ritual. Kita berharap akan ada banyak orang yang mengikuti ritus-ritus ibadah. Untuk itu, kita berusaha keras mencari pola dan bentuk ritus-ritus ibadah seperti yang apa, yang dapat menghadirkan orang banyak untuk terlibat. Cara berkhotbah yang baik terus diajarkan kepada para pengkhotbah dengan harapan, dapat mendatangkan banyak orang dalam ritus-ritus ibadah. Ketika semua usaha sudah dilakukan namun antusiasme orang untuk terlibat dalam ritus-ritus ibadah masih tetap rendah maka kekecewaan demi kekecewaan terus kita rasakan.
Tanpa sadar, gereja seakan hanya terfokus pada soal : bagaimana mendatangkan sebanyak mungkin orang dalam ritus-ritus ibadah. Semua tenaga, daya dan dana difokuskan (jika tidak mau dikatakan dihabiskan) untuk itu semua. Pertanyaannya adalah jika pada akhirnya orang antusias mengikuti ritus-ritus ibadah, apakah itu berarti gereja “berhasil” dalam karya layannya?
Teks Alkitab yang menjadi dasar renungan kita berbicara sesuatu yang berbeda. Menurut teks kitab Amos ini, Tuhan justru benci, muak, bosan, dan jengkel dengan semua ritus ibadah yang dilakukan Israel. Bagi Tuhan, semua yang dilakukan oleh Israel adalah kesia-siaan belaka karena tidak diikut-sertakan dengan perilaku yang adil. Keadilan menjadi sesuatu yang sangat penting dilakukan oleh Israel. Bagi Tuhan, jika ritus-ritus ibadah tidak menghasilkan tindakan keadilan bagi mereka yang susah, lemah, miskin, dan tak berdaya, maka semuanya adalah penipuan belaka.
Melihat sikap Tuhan dalam kitab Amos ini, pertanyaan yang patut kita renungkan adalah apakah hidup kita sudah adil? Apakah kita malu jika kita hidup dengan cara yang tidak adil? Berlakulah adil. Itu lebih dari cukup.