Sabtu, 25 Juni 2022
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Efesus 3 : 1 – 6
Mengeluh sebagal manifestasi rasa tak puas dan tidak nyaman secara psikologi merupakan suatu respons yang wajar, apabila dibatasi. Namun demikian, jika terus-menerus mengeluh tapa adanya solusi yang tepat, maka hal itu akan membentuk pribadi yang berfokus pada hal-hal negatif, sehingga sangat sulit untuk berpikir positif. Ada sembilan bahaya mengeluh apabila tidak segera ditinggalkan. Tiga diantaranya adalah: 1. Terganggunya kesehatan tubuh; 2. Memperburuk keadaan; 3. Menurunkan kecerdasan dan meningkatkan risiko Alzheimer (penurunan daya ingat).
Demikianlah Paulus, meski berada dalam penjara dia tidak mau mengeluh, tetapi tetap berkarya. Pada ayat 1 Paulus menyebut dirinya dalam terjemahan LAI:
“orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus”. Sementara itu dalam terjemahan pada umumnya adalah “the prisoner of Christ Jesus for the sake of you Gentiles”, (yang menjadi tawanan Kristus Yesus oleh karena kamu, orang-orang non Yahudi). Pernyataan ini penting, karena Paulus tidak mau menyebut dirinya “a prisoner of Nero” meski kenyataannya pada waktu itu dia adalah tahanan kaisar Nero yang berkuasa. Maksudnya adalah supaya tidak menimbulkan kesan, bahwa hidupnya tergantung pada Nero. Dengan menyebut dirinya “a prisoner of Christ Jesus” (tahanan Kristus) ia menunjukkan, bahwa dirinya tergantung pada Kristus. Ini sekaligus menegaskan pengakuannya, bahwa Allah itu berdaulat dalam keadaan apapun. Jadi Paulus memang ditangkap, ditahan dan menderita, karena pemberitaannya untuk menyatakan kasih karunia Yesus Kristus kepada orang-orang non Yahudi, namun dia sama sekali tidak mengeluh.
Kita diingatkan, bahwa sesulit apapun tugas tanggung jawab pelayanan merupakan kesempatan untuk memberitakan Injil, bahkan dengan semangat dan sukacita. Paulus menghayati kasih karunia Allah dalam hidupnya untuk memberitakan Kristus seluas-luasnya. Demikianlah kita dipanggil untuk memberi diri memberitakan kasih karunia-Nya melalui pelayanan kita.