Jumat, 24 Juni 2022
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Efesus 2 : 17 – 20
Siapa pun pasti merasa hancur dan pilu hatinya ketika diasingkan dari lingkungan pergaulannya atau keluarga besarnya. Sebab salah satu kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial, juga bagian dari aktualisasi dirina adalah dapat diterima dengan baik oleh sesamanya. Kita dapat memahami, ketika ada seorang mantan narapidana diasingkan dari lingkungannya, karena melekat stigma sosial yang negatif pada dirinya, bisa bayangkan betapa hancur hatinya. Dalam situasi seperti ini, bisa saja ia mencari dunianya sendiri dan jatuh pada tindakan negatif lain sebagai
pelariannya. Hal inilah yang harus dihindari terjadi dalam persekutuan.
Paulus mengingatkan, bahwa ketika seseorang ada di dalam Kristus, maka dia bukan orang asing, tetapi sebagai bagian dari keluarga Allah. Kita semua adalah kawan sewarga dari orang-orang yang dikuduskan. Sebab kita telah menerima pengampunan dosa dan telah diperdamaikan dengan Kristus, sehingga menjadi manusia baru yang dibarui di dalam roh maupun pikiran. Dengan demikian, terciptalah damai sejahtera bagi setiap pihak, yaitu mereka yang telah menerima Injil. Karena itu, orang-orang yang telah menerima Kristus, mestinya tidak lagi menciptakan keterpisahan dan perseteruan dalam berbagai bentuk. Orang yang sungguh-sungguh telah menerima Kristus justru berupaya untuk hidup dalam kesatuan dan perdamaian. Bahkan ia menjadi bagian keluarga Allah atau komunitas iman yang saling menguatkan.
Marilah sebagai persekutuan orang-orang yang telah menerima Kristus, kita tidak lagi menciptakan keterpisahan dan perseteruan dalam berbagai bentuk. Mari berupaya untuk hidup dalam kesatuan dan perdamaian satu dengan yang lain. Oleh sebab itu, berhentilah membuat jurang pemisah antara satu dengan yang lain. Berhentilan melabeli orang/kelompok tertentu hanya karena berbeda dengan kita. Berhentilah menciptakan, apalagi memperparah permusuhan dalam jemaat dan masyarakat.