Mona, yang kisahnya kita baca dalam SBU kemarin, bertanya kepada seorang pelayan Tuhan, “Bu, apakah Tuhan Yesus marah dengan semua hal yang pernah saya perbuat?” Masa indah penuh canda tawa yang mestinya dinikmati seorang remaja muda tercabik oleh keputusan orang tua, kemiskinan, kematian, kekerasan, dan ketidakadilan. Mona menilai dirinya sebagai orang berdosa, padahal dia adalah korban kekerasan berlapis yang tragis. Jika Saudara yang ditanya Mona, apa jawaban yang paling tepat untuk memulihkan dan membuat dia berdaya lagi?
Perempuan di pinggir sumur mengalami pemulihan setelah Yesus memulai percakapan, mengajarinya tentang karunia Allah yang menyibak sekat-sekat pembatas yang menekan (ay. 10), menjawab keraguannya dengan menawarkan “air hidup”. Ia menunjukkan makna menjadi penyembah Allah di dalam roh dan kebenaran. Dengan demikian, kuasa, takhta, dan karya Allah tidak lagi dibatasi oleh pikiran manusia (ay. 21-24). Pertikaian antara orang Yehuda dan Samaria beratus-ratus tahun berdampak serius dan destruktif dalam seluruh aspek kehidupan mereka di jaman itu. Yesus Kristus memanggil, mengajari, memulihkan, memberikan pencerahan spiritual, dan -secara tidak langsung- mengutusnya menjadi saksi.
Perempuan yang hidupnya “dibatasi” oleh kebiasaan, sejarah masa lalu, tabu, dan diperlakukan tak adil ini dibuat menjadi pribadi yang merdeka dan berdaya. Jiwa yang dibuat merdeka oleh Yesus ini memproyeksikan ketakjubannya dengan kembali ke tengah masyarakat sebagai saksi Kristus. Saudaraku, pertanyaan Mona adalah pertanyaan dalam hati kita juga, bukan!? Kita semua memiliki masa lalu, tetapi karunia Allah di dalam Kristus membebaskan dan memulihkan kita! Beritakanlah kasih-Nya lewat sikap hidup yang juga memulihkan, bukan menciderai, supaya orang di sekitar melihat kebaikan Allah lewat kesaksian hidup kita sehari-hari.