MULIAKANLAH TUHAN

Sabtu, 21 Mei 2022
 
Renungan Pagi
 
Bacaan Alkitab : 1 Tawarikh 25 : 1 – 7
 
Nyanyian dalam ibadah adalah bagian dari proklamasi atas perbuatan-perbuatan besar Allah. Nyanyian itu tidak ditujukan pada diri kita atau manusia, melainkan kepada Tuhan dan kemuliaan-Nya. Tidak kalah penting dari nyanyian itu adalah si penyanyi. Ia bukan saja penampil dari syair yang memproklamasikan perbuatan Allah yang besar, tetapi ia adalah pembawa pesan. Seorang penyanyi di bait Allah, dipilih dan dipersiapkan khusus melalui latihan-latihan yang menguras energi. Penyanyi di Bait Allah adalan pribadi-pribadi yang dikuduskan untuk melayani. Ya, tugas mereka adalah melayani kemuliaan Tuhan dengan talenta dan dalam ketaatan. Jumlah mereka tidak sedikit. Alkitab mencatat ada dua ratus delapan puluh delapan orang, yang dilatih.
 
Untuk sebuah pertunjukan musik kolosal, kita memerlukan waktu, tenaga, Tasilitas dan pemain musik yang terlatih dan professional di bidang masing-masing. Apakah gereja memerlukan sumber daya dan proses yang sedemikian rupa? Pertanyaannya, apakah ibadah kita hanya sebuah pertunjukan musik biasa atau hanya perjumpaan biasa? Ibadah kita adalah sebuah pertunjukan bagi kemuliaan Allah. Yang diperlihatkan adalah kebesaran dan kemuliaan Allah. Kita adalah orang-orang yang dipersiapkan dan dilatih dalam ketaatan untuk melayani kemuliaan itu, supaya dunia tahu Dia adalah Tuan dan Juruselamat.
 
Ibadah yang adalah perjumpaan kita dengan Tuhan, sudah selayaknya para pelayan dipersiapkan dengan sebalk-baiknya. Setiap orang yang ingin melayani Tuhan harus bersedia untuk ditempa, dikhususkan dan dilatih terus menerus sehingga mampu menunjukkan kemampuannya yang terbaik. Bukan untuk membuat dunia takjub, tetapi agar melalui dirinya nama Tuhan dimuliakan. Maukah saudara dipakai, dilatih dan dikhususkan untuk menjadi bagian dari orkestra kemuliaan Tuhan?