Jumat, 22 April 2022
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Yohanes 15 : 9 – 17
Ajaran kasih menjadi ajaran luhur dari semua agama dan kepercayaan. Tuhan Yesus mengajarkan kasih terkait dengan penebusan manusia. Tuhan Yesus sendiri menunjukkan teladan dalam memberlakukan kasih kepada manusia yang berdosa. Berdasarkan kasih, para murid tidak lagi disebut hamba melainkan sahabat. Ia tidak memandang murid-murid-Nya berdasarkan relasi antara majikan dan hamba, tetapi berdasarkan relasi kesetaraan. Hidup manusia diletakkan pada posisi yang berharga di hadapan-Nya, dengan demikian mereka terpanggil untuk menjadi pelaku kasih
Di tengah kehidupan bermasyarakat yang sarat dengan kepelbagaian budaya, termasuk agama dan kepercayaan, tidak jarang kita mendapati perilaku di antara anggota masyarakat yang menunjukkan kasih. Kelompok yang mengklaim dirinya mayoritas, melakukan pembatasan aktivitas, bahkan persekusi terhadap kelompok lainnya atas nama kebenaran yang bersifat subyektif. Perilaku mengasihi dibatasi pada kelompok atau golongan yang sepaham dengan dirinya saja, yang berujung pada konflik horizontal dalam kehidupan bermasyarakat. Pada gilirannya diperlukan langkah-langkah penegakan hukum, sebagai satu-satunya harapan terjaganya keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa ini. Kita berduka dengan saudara kita yang menderita di tempat pengungsian dan menjadi orang asing di tanah airnya sendiri. Kita terpanggil untuk terus menjaga perilaku yang mengasihi sesama tanpa pembedaan. Kita mengasihi sesama dengan segala keberadaannya, karena itulah panggilan kemanusiaan kita.
Perintah untuk saling mengasihi juga berdampak luas terhadap bumi dimana kita tinggal. Eksploitasi sumber daya alam secara besar-besaran dan tidak bertanggungjawab, telah mengakibatkan bencana banjir, pemanasan global, kekeringan, kerusakan lingkungan, punahnya satwa Iangka serta kurangnya air bersih. Kita terpanggil bersama dengan semua anggota masyarakat untuk mengupayakan tindakan-tindakan kasih guna menjaga dan merawat kehidupan manusia dan bumi ini.