Minggu, 6 Februari 2022
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Keluaran 19 : 1 – 6
Allah mengikatkan diri- Nya dengan orang percaya bukan karena ketaatan atas hukum-hukum-Nya, melainkan arena anugerah dan kasih sayang-Nya. Segala sesuatu diawali oleh kasih Allah. Ia mencari, menggendong orang-orang yang Ia kasihi, untuk mengalami anugerah pembebasan dan hidup dalam rancangan-Nya yang Ia tetapkan.
Ada dua hal penting tentang Firman, ketetapan atau Hukum Allah yang harus kita perhatikan :
- Tuhan tidak memberikan ketetapan-Nya untuk menjadi alat orang mencari selamat atau mengalami keselamatan. Hal tersebut mustahil untuk dilakukan oleh orang percaya, karena tidak ada seorangpun yang dapat membuat dirinya menjadi sempurna dengan hukum.
- Hal pertama di atas menjadi penting untuk kita dapat memahami hubungan kita dengan Allah. Tuhan tidak memberikan hukum-hukum-Nya untuk membuat kita menjadi orang yang sempurna. Tuhan memberikan hukum-Nya agar hidup kita bersama orang lain menjadi baik sebagaimana yang Ia kehendaki.
Respons atas anugerah Allah yang membuat kita memiliki kehidupan adalah dengan melakukan apa yang difirmankan-Nya. Pikiran-pikiran yang tidak tepat perlu untuk kita perbaiki. Misalnya, bahwa saya selamat, karena perbuatan/ ketaatan saya, atau perbuatan baik saya lebih banyak daripada keburukan saya. Jadi oleh karena semua kebaikan yang saya lakukan, maka pasti saya akan selamat. Dengan cara demikian kita suka untuk memperhitungkan kebaikan diri sebagai cara untuk masuk surga. Yang Tuhan mau adalah sebagai orang percaya, kita bersyukur dalam ketaatan. Kita mempertanggungjawabkan keselamatan dan anugerah yang telah diterima, dengan hidup dalam ketaatan pada perintah-perintah-Nya. Kehidupan kristiani yang dibangun atas anugerah Allah dan ketaatan kepada-Nya, adalah bentuk dari tanggung-jawab orang-orang yang bersyukur atas anugerah tersebut. Ketika kita memberi respons anugerah Allah melalui ketaatan diri, maka ada janji-Nya yang mengikuti. Janji tersebut adalah kita menjadi kesayangan-Nya. Kita menjadi orang yang dipilih untuk meneruskan pesan-Nya. Kita pun menjadi umat yang kudus atau tidak tercemar hidupnya.