Jumat, 28 Januari 2022
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Kejadian 48 : 1 – 7
Kehidupan beriman seseorang pertama-tama dibangun dalam keluarga. Dalam keluarga peran orang tua menjadi penting, yakni bagaimana mereka memperkenalkan Allah sejak dini dan meneruskan ajaran iman melalui kesaksian hidup dan keteladanan.
Ketika Yakub bertemu Yusuf dan anak-anaknya, ia menyaksikan pengalaman imannya akan Allah yang datang menampakkan diri kepada Yakub, menyampaikan janji-janj-Nya dan memberkati. Sekarang janji Allah telah nyata, yaitu bagaimana Allah menuntun, menyertai dan memberkati dengan memberikan keturunan dan negeri kepada anak cucunya. Artinya, janji Allah tidak hanya nyata bagi Yakub, tapi juga kepada keturunannya. Oleh karena itu, Yakub meneruskan berkat Allah yang diterimanya kepada anak cucunya dengan menumpangkan tangan atas mereka sebagai simbol dari penyampaian berkat Allah tersebut. Yakub mengadopsi anak-anak Yusuf menjadi anaknya, sehingga Efraim dan Manasye mempunyai status yang sama seperti anak sulungnya sendiri, Ruben dan Simeon. Yakub menyebut Efraim lebih dulu meskipun Manasye yang sulung. Itu berarti Efraim menerima berkat Yakub yang utama. Dengan demikian, mereka mendapat warisan Yakub bukan hanya pembagian tanah, tapi juga pengalaman iman akan kasih dan tuntunan Allah, agar anak cucunya memperoleh berkat Tuhan seperti yang nyata bagi dirinya.
Setiap orang percaya melalui pengalaman iman dan pengenalan akan Tuhan Yesus dipanggil untuk menerima dan meneruskan berkat Tuhan kepada generasi penerus melalui keteladanan dan kesaksian hidup. Menjadi tugas gereja juga untuk memelihara warisan iman dan meneruskannya melalui panggilan dan pengutusannya.