Minggu, 26 Desember 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Lukas 3 : 21 – 22
Bacaan ini merekam penyataan tentang Allah Tritunggal: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Bapa hadir dengan suara, “Engkaulah Anak-Ku yang ‘Ku kasihi..” Roh Kudus hadir dengan rupa burung merpati. Lalu Anak, yaitu Yesus Kristus, hadir dalam rupa manusia. Momen baptisan Yesus adalah kesaksian tentang Allah yang satu, yang hadir dalam tiga wujud. Sulit dipahami, bukan? Kesulitan manusia memahaminya tidak mencegah Dia menyatakan keberadaan-Nya.
Demikian halnya dengan siapa yang berhak menerima baptisan. Ada yang mempersoalkan baptisan anak dengan alasan mereka belum memahaminya. Baptisan adalah upacara kudus yang menyatakan keselamatan bagi umat manusia, yang bermula dari kasih karunia Allah. Tanpa menunggu mansuia dapat memahami dan berlaku benar, Allah sudah lebih dahulu mengasihi dan mengaruniakan keselamatan-Nya tersebut. Itu alasan mengapa anak-anak dapat menerima baptisan.
Di hadapan Allah, manusia adalah anak-anak-Nya. Yang Bapa katakan saat Yesus dibaptis, “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan”, adalah isyarat atau pertanda bagi manusia lainnya, bahwa mereka juga adalah sasaran dari kasih karunia-Nya. Kita mengerti hal ini, karena dalam surat 1 Korintus 15 : 23 dikatakan, Yesus Kristus adalah yang sulung dari manusia yang baru, dan sesudah itu mereka yang adalah milik-Nya yaitu umat yang dikasihi-Nya, yang kemudian dikenal sebagai gereja.
Dengan menjadi umat yang menerima kasih karunia Allah, yang karena kasih karunia itu menerima pembaruan, marilah kita memelihara kehidupan dalam karya-Nya melalui Roh Kudus. Oleh Roh-Nya, kita senantiasa dibimbing hidup mengenal serta mengasihi-Nya maupun orang lain. Oleh Roh-Nya, kasih karunia-Nya tidak pernah sia-sia hadir bagi umat manusia, sekarang dan selama-lamanya.