Senin, 29 November 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Lukas 6 : 20 – 23
Sekilas perkataan Yesus ini tidak masuk akal, sebab bagaimana mungkin menjadi miskin, lapar, sedih, dikucilkan dan dicela akan berbahagia. Atau apa yang dikatakan Yesus hanya sekadar menghibur atau untuk menyenangkan para pengikut dan murid-murid pada waktu itu. Di sinilah kita perlu memahami perkataan Yesus dan maknanya bagi kita saat ini.
Pernyataan Yesus “Berbahagialah…” yang ditujukan kepada mereka yang mengalami kesulitan dalam hidup, yaitu berkaitan dengan iman mereka kepada Tuhan. Mereka menjadi miskin, lapar, sedih, dibenci, dikucilkan, dicela dan ditolak (ay.20-22). Itulah harga yang harus mereka bayar karena komitmen mereka mengikuti Yesus. Kepada orang-orang semacam inilah, Yesus menjanjikan Kerajaan Allah dan berkat-berkat berupa kecukupan makanan, sukacita, dan upah besar di surga. Dalam hal ini Yesus juga hendak menegaskan bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada kesehatan, kelepasan dan tekanan mental, atau pun kelepasan dari berbagai kebutuhan hidup sehari-hari. Kebahagiaan sejati adalah mengenal Allah dan kehendak-Nya, serta hidup di dalam ketaatan melakukan kehendak-Nya.
Melalui bacaan ini Yesus hendak menegaskan kepada kita cara berpikir dan pola hidup Kerajaan Allah, namun bukan menuntut kita untuk hidup menderita dan menghindari kekayaan atau kebahagiaan. Kita justru sedang diarahkan untuk memiliki pemahaman tentang kebahagiaan sejati. Jadi apabila saat ini kita mengalami penderitaan karena iman kita kepada Yesus, sesungguhnya kita sedang dibentuk serta akan mengalami pertolongan-Nya. Hal ini tentu membuat kita bisa tetap bersukacita, terlebih Yesus sendiri berjanji apabila saat ini kita miskin, lapar, menangis, dan menderita, tetapi nanti akan mengalami kebahagiaan sejati. Jadi jangan pernah berputus asa, apalagi menyerah.