KEMARAHAN YANG MEMBERKATI

Senin, 15 November 2021

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Keluaran 32 : 15 – 20

Setiap orang dengan berbagai alasan pasti pernah marah. Berdasarkan KBBI, marah bermakna perasaan sangat tidak senang karena berbagai hal yang tidak menyenangkan yang dialami seseorang (berang atau gusar). Marah pada satu sisi dibenarkan jika beralasan dan terkendali tetapi yang salah adalah kemarahan yang tidak terkendali dan tidak beralasan (band. Efesus 4:26).

Setelah menerima dua loh batu yang berisi hukum TUHAN, Musa bersama Yosua turun dari gunung Sinai menjumpai umat Israel. Musa mendengar dan melihat orang-orang Israel dengan sangat meriah menyanyi dan menari. Mereka menari dan menyanyi bukan dalam rangka menyambut Musa. Bukan juga dalam rangka memuji dan menyembah Allah, tetapi dalam rangka ritual penyembahan patung anak lembu emas. Israel telah mengecewakan Musa terlebih mengecewakan Allah. Ketidak-sabaran Israel menunggu Musa telah menjerumuskan mereka jatuh kedalam dosa. Musa marah dan bertindak menghancurkan patung anak lembu emas dengan dua loh batu. Tindakan Musa ini bermakna: a) Menegur Israel bahwa mereka telah menyimpang dan berada dalam krisis; b) Menunjukkan kepada Israel bahwa patung anak lembu emas itu tidak punya kuasa, hanya Allah yang hidup dan Maha-kuasa; c) Dua Loh Batu yang berisi Hukum TUHAN dihancurkan Musa sebagai lambang bahwa mereka telah menghancurkan dan melanggar hukum TUHAN.

Kemarahan Musa bukan membawa Israel pada kebinasaan tetapi justru pada berkat. Maksudnya kemarahan Musa bertujuan untuk menyelamatkan Israel dari kebinasaan karena dosa. Kema-rahan yang menghadirkan berkat inilah yang harus kita nyatakan ketika diperhadapkan dengan penyimpangan dan penyesatan di sekitar kita. Kemarahan yang menghadirkan berkat itu dibangun berdasarkan kasih Allah dan kebenaran Firman-Nya, bukan dilandasi oleh emosi dan kebencian.