Minggu 31 Oktober 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Wahyu 2 : 1-7
Sebagai sebuah konstelasi kasihmu yang sosial, semula (ay.4) GPIB telah melahirkan beragam gagasan, pemimpin dan agenda. Karena itu terbentuklah suatu konstruksi kultur yang khas. Semua itu terekam dalam catatan sejarah. Krisis, dekadensi, kebangkitan, dan bertumbuh merupakan proses alamiah. Dari laboraturium kehidupan demikian, GPIB menjadi dirinya terkini. Ia akan terus berada dalam proses menjadi (process of being).
Ada nada kecewa yang tersirat dalam perikop bacaan kita. Jemaat di Efesus terperosok ke dalam kubangan dekadensi. Melalui firman-Nya, Tuhan berkata tegas tentang dua hal. Pertama keteguhan, ketabahan, dan kasih mereka di masa lalu. Kedua, seruan pertobatan. Degradasi semacam ini merupakan bagian dari process of being dalam kehidupan berjemaat. Masalahnya berakar pada manusia. Tuhan mengatakan, “Namun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan
Peter Drucker, seorang edukator dan penulis Austria kelahiran Amerika pernah menulis demikian: “Kepemimpinan adalah mengangkat visi seseorang ke tingkat yang paling tinggi, menaikkan performa seseorang ke standar yang lebih tinggi, pembangunan kepribadian yang melampaui keterbatasan keterbatasan normalnya”. Tak ayal lagi dekadensi merupakan sebuah persoalan kepemimpinan. Karena itu pertobatan adalah jalan untuk bermetamorfosis. Bertobat dalam konteks bacaan kita adalah kembali ke jantung kehidupan berjemaat yaitu ‘kasih’. Di dalam kasih, lapisan-lapisan keras ego melunak dan cair. Biarlah di dalam kasih sejarah kepemimpinan di GPIB menjadi rekaman upaya berkesinambungan untuk mengangkat mereka yang dipimpin ke dalam keberhasilan-keberhasilan tertinggi. Dirgahayu GPIB. Denyut nadi kasihmu akan membawa jemaat terbang tinggi merobek awan menuju puncak-puncak mulia.