Minggu, 24 Oktober 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Keluaran 15 : 22 – 27
Perjalanan keluar dari mesir masih panjang, namun tak lama berselang umat Israel telah bersungut-sungut, padahal baru saja kemenangan atas Firaun dikumandangkan Musa melalui nyanyian bersama umat. Sayangnya, ketika umat berhadapan dengan masalah ketiadaan air, mereka segera bersungut sungut.
Sungut-sungut umat ditanggapi oleh Musa memakai pendekatan berbeda dengan menunjukkan reaksi yang sangat berpengaruh membentuk karakter kepemimpinannya yakni dengan berseru-seru kepada Allah (ay.25). Musa tidak menempatkan dirinya sebagai solusi atas permasalahan. Ia menunjukkan Allah sebagai penolong utama yang mahatahu dan mahakuasa. Karena itu, Musa taat melakukan apa yang diperintahkan Allah. Menjadi jelas di sini bahwa sekalipun Musa yang memimpin keluar dari Mesir, namun pemimpin umat yang utama adalah Allah sendiri. Kesadaran inilah yang memungkinkan kepemimpinan Musa memberikan keteladanan kepada umat. Nyata bahwa hanya dalam ketaatan kepada Allah setiap permasalahan dapat menemukan solusi.
Menjadi pemimpin bukanlah soal posisi, melainkan kepemimpinan yang memberi keteladanan. Inilah kunci strategis bagi setiap pemimpin dalam melaksanakan tugasnya. Tugas yang dipercayakan oleh Allah harus dilaksanakan dalam ketaatan kepada-Nya. Dalam konteks masa kini dapat dikemukakan bahwa kepemimpinan yang didasarkan pada keteladanan merupakan jawaban atas beragam kesulitan dan tantangan. Pemimpin yang berseru-seru kepada Allah adalah pribadi yang memiliki relasi yang hidup dengan-Nya dan selalu menemukan kekuatan dalam menjalankan tugasnya. Rasul Paulus menasihatkan, “Apapun yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan” (Kol.3:23). Hal ini penting menjadi dasar dari setiap karya kepemimpinan siapa pun, sehingga jika terjadi sungut sunggut, segera mencari solusi dalam ketaatan kepada Tuhan.