Minggu, 3 Oktober 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Kisah Para Rasul 22 : 1 – 5
Allah selalu intervensi untuk menyatakan karya-Nya yang ajaib dalam kehidupan dan misi Gereja. Intervensi Allah nyata dalam keadaan aman ataupun terancam. Misi Allah dalam hal pewartaan kabar keselamatan dan mewujudkan damai sejahtera bagi seluruh ciptaan, sering mendapat hambatan dari pihak-pihak yang menganggap kehadiran Gereja sebagai pengganggu.
Dikisahkan sebelumnya, bahwa orang-orang Yahudi meng-hasut rakyat untuk menangkap Paulus. Ia dianggap penyesat dan penentang Hukum Taurat. Ia dituduh menajiskan Bait Allah, karena membawa orang Yunani masuk ke sana. Mereka menyeret Paulus keluar dari Bait Allah dan berencana membunuhnya, tetapi Kepala pasukan serta prajurit Romawi datang dan menangkapnya (21:27-34). Paulus selamat dari amukan massa. Kepala pasukan mengira Paulus orang Mesir, pemimpin pemberontak bersenjata yang sedang dicari, sehingga membawanya ke markas. Paulus mengatakan dirinya seorang Yahudi. Ia pun meminta agar dibolehkan berbicara kepada massa yang berteriak menuntut kematiannya. Ia lalu berpidato membela dirinya. Dengan bahasa Ibrani, ia menjelaskan asal-usulnya sebagai seorang Yahudi sejati, murid Gamaliel dan giat beribadah kepada Allah. Dulu ia juga pembela agama dan penganiaya para pengikut Yesus dengan sepengetahuan Imam Besar dan Majelis tua-tua. Mereka semua tenang mendengar. Ini menyatakan intervensi Allah melalui Roh Kudus dalam diri Paulus.
Dalam menjalankan misi Allah, kita pun akan mengalami banyak hambatan dari masyarakat, juga pemerintah. Namun demikian, kita tidak boleh kalah terhadap hambatan. Allah punya banyak cara untuk mengintervensi dan menolong kita. Roh Kudus akan memberi hikmat, agar kita mampu membangun relasi yang baik dan menjelaskan identitas serta tujuan misi dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh banyak orang (massa), juga pemerintah yang menghambat, agar tercipta ketenangan, lalu misi bisa tetap dilaksanakan.