KETIKA LEMAH, AKU KUAT

Rabu, 15 September 2021

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : 2 Korintus 12 : 1 – 10

“Aku lemah, maka aku kuat”. Ungkapan ini bukanlah sebuah kontradiktif, tetapi bersifat paradoks. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), kontradiktif berarti berlawanan. Sedangkan kata paradoks mengandung arti sebuah pernyataan yang seolah-olah bertentangan dengan pendapat umum atau kebenaran, tetapi kenyataannya mengandung kebenaran.

Dalam teks Alkitab pagi ini, Paulus yang menyatakan, “Sebab jika aku lemah, maka aku kuat”. Ini sebuah pernyataan iman berdasarkan penglihatan dan pengalaman hidup yang dialaminya. Paulus adalah seorang Rasul Kristus yang dengan berani menyatakan sebuah kebenaran berdasarkan iman percayanya kepada Kristus. Ia mengalami banyak penderitaan. Pasti itu berat baginya. Namun demikian, dalam kesadaran diri sebagai manusia yang lemah dan yang menerima perlakuan yang menyakitkan, Paulus mendapatkan penglihatan yang memberikan kekuatan. Inilah cara Tuhan menyatakan cinta dan kasih-Nya kepada Paulus yang mengalami rasa sakit, karena hidup dalam kebenaran yang Tuhan Yesus berikan.

Pengalaman Paulus inilah yang menyadarkan kita sebagai orang beriman, bahwa dalam kelemahan diri untuk melaksanakan tugas panggilan dan pengutusan Tuhan tidak pernah membiarkan kita. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di sepanjang hari ini. Namun yang pasti, ketika kita melaksanakan setiap tugas dengan kebenaran iman, tantangan akan menghadang. Maka, jangan pernah ragu untuk hidup dalam kebenaran yang telah Yesus berikan. Ingatlah! Dalam kelemahan kita, Yesus hadir dan memberi kekuatan. Karena itu hadapi tantangan hari ini dengan penuh sukacita. Percayalah! Ketika kita datang kepada Dia membawa semua pergumulan yang kita pikul. Dia akan memberikan kekuatan. “Aku lemah maka aku kuat” sebuah pernyataan iman di tengah situasi sulit saat ini.