MEYAKINI KUASA TUHAN

Jumat, 10 September 2021

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : 1 Raja-Raja 18 : 20 – 29

Ahab adalah raja Israel yang selalu mendapat teguran dari Allah, karena pada masa pemerintahannya ada begitu banyak praktek penyembahan kepada baal di Israel. Nabi Elia diutus oleh Allah untuk menyatakan dosa dan pelanggaran orang Israel yang menyembah baal. Teguran-teguran yang disampaikan tidak diterima Ahab dengan baik. Sebaliknya Ahab justru menantang nabi Elia. Ahab memperhadapkan Elia dengan para nabi baal dan nabi Asyera yang jumlah seluruhnya ada 850 orang (ay.19).

Nabi Elia tetap mengajak umat Israel untuk kembali menyem-bah Allah, tetapi mereka tidak memberi jawaban (ay. 21). Walau-pun tidak ada yang mau bersamanya, tetapi Elia yakin bahwa ia disertai TUHAN Allah yang mengutusnya. Karena itu Elia menan-tang iman orang Israel dan para nabi baal melalui tindakan ritual yaitu membuat persembahan korban (ay 22-23). Para nabi baal melakukan upacara dengan memanggil baal yang mereka sembah. Mulai dari upacara sederhana sampai mereka melakukan tindakan yang mengerikan (ay 26-28). Meskipun segala cara dilakukan untuk memanggil baal, bahkan sampai dengan menyiksa diri, namun para nabi baal tidak berhasil menyalakan mezbah untuk persembahan korban. Elia tidak gentar sedikit pun, ketika berhadapan dengan banyaknya nabi baal dan umat yang menyembah baal. Karena Elia percaya pada TUHAN Allah dan menyakini-Nya.

Dimanakah posisi kita sekarang? Apakah kita pada posisi umat Allah yang sudah jatuh pada penyembahan berhala? Apakah kita malah sudah menjadi tokoh untuk melakukan penyembahan berhala? Atau sebaliknya, kita tetap setia kepada TUHAN sekalipun berhadapan dengan banyak orang yang tidak percaya. Mestinya kita berada pada posisi yang bukan hanya di mulut berani mengaku percaya. Kita juga harus percaya dalam keutuhan hidup yang sungguh-sungguh meyakini kuasa TUHAN.