MENGUBAH CARA PANDANG, MENAWARKAN PEMULIHAN

Kamis, 21 Januari 2021

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Yohanes 8 : 1 – 11

Rusalki adalah mitologi Rusia tentang sosok perempuan yang konon mati mengenaskan. Di balik mitos Rusalki ini adalah kisah ketidakadilan masyarakat terhadap seorang perempuan korban perkosaan yang akhirnya bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya. Kisahnya mirip mitos Kuntilanak, Yurei di Jepang, Banshee di Irlandia, Phi Tai Hong di Thailand, Chonyeo Gwishin di Korea, La Llorona di Spanyol atau Pontianak di Malaysia. Kisah di balik mitos itu berbeda-beda, tapi ada satu kesamaan mereka, yaitu korban kejahatan yang menggugat keadilan. Sebagai sosok mitologi tanpa nama, mereka merepresentasikan pengalaman para korban yang meraung-raung dari alam kematian, karena dibuat tidak berdaya dan diam, mengalami kekerasan, lalu mati.
 
Perikop bacaan yang dramatik dan sangat horor hari ini mengarahkan plotnya pada perempuan tanpa nama yang dikenai pasal perzinahan. Ia dibawa paksa oleh para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Ia sengaja dijadikan objek untuk dipermalukan di depan rakyat yang sedang diajar Yesus di Bait Allah (ay. 4). Mereka hendak mencari kesalahan Yesus, yang memberitakan tentang pengampunan Allah. Ajaran-Nya itu hendak dibenturkan dengan Hukum Taurat tentang rajaman batu bagi pezinah (ay. 5-6). Yesus menggeser plot horor dari perempuan itu dengan mempertanyakan integritas para pendakwa. Satu persatu beranjak pergi, hingga Yesus memiliki momen pengampunan dan pemulihan bagi perempuan itu (ay. 10-11).
 
Saudaraku, Tuhan Yesus mempertanyakan integritas dan cara pandang kita terhadap suatu masalah. Maksudnya, agar kita tidak merasa paling benar, berkuasa dan semena-mena. Jangan-jangan sebagai pribadi berdosa ada yang lupa, bahwa Kristus yang mengampuni itu juga mempertanyakan sejauh mana pertobatan kita mengarah pada ucapan dan tindakan yang punya kekuatan untuk memulihkan, bukan menghancurkan.