TAHUN BARU, HIDUP BARU

Jumat, 1 Januari 2021

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : 2 Tawarikh 29 : 1 – 11

Lain Salomo, lain juga Hizkia. Apabila Salomo memiliki ayah yang taat, Hizkia tidak. Ahas, ayah Hizkia, menjadi raja Yehuda selama 16 tahun, dan melakukan banyak kekejian di mata Tuhan. Ia membuat patung-patung Baal dan membakar anak-anaknya sebagai kurban kepada para dewa. Ia menutup Bait Suci dan mengambil semua perkakas di dalamnya untuk dipersembahkan kepada dewa-dewa. Akibatnya, Tuhan menghukum Ahas dengan penghinaan dan penderitaan, yaitu ditaklukan oleh kerajaan-kerajaan di sekitarnya sampai dia meninggal. (Lihat 2 Taw:28)
 
Hebatnya, Hizkia memilih untuk tidak berperilaku seperti ayahnya. Hizkia setia pada TUHAN. Ia memperbaiki Bait Suci serta memfungsikan kembali ibadah-ibadah kepada TUHAN di seluruh kerajaan Yehuda. Hizkia belajar dari pengalaman ayahnya, dan memilih untuk menjadi lebih baik dari sisi perilaku maupun kepemimpinan yang terdahulu. Ia tidak mau murka TUHAN terus menyala-nyala atas Yehuda.
 
Hizkia menjadi raja pada umur dua puluh lima tahun. Ia cukup banyak menyaksikan penderitaan rakyat Yehuda, saat masih diperintah oleh ayahnya. Untungnya, TUHAN tidak lantas memusnahkan Yehuda, karena kekejian Ahas. Tuhan masih memberi kesempatan kepada keturunan Ahas, yaitu Hizkia, untuk mengubah kehidupan umat-Nya. Tuhan memang tidak dapat menyangkal diri-Nya. Ia tetap setia.
 
Kesetiaan TUHAN ini adalah peluang yang jangan disia-siakan. Tahun baru adalah kesempatan yang TUHAN buka bagi kita sebagai umat-Nya, agar lebih baik dari tahun sebelumnya. Mari menjadi lebih baik dalam segala hal, khususnya perilaku. Perbanyaklah perilaku yang terpuji, yang berkenan di hadapan TUHAN. Orang harus menyaksikan, bahwa kita sedang menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Dengan kata lain, bukan hanya tahun yang baru, diri kita pun mesti jadi baru.