KEPASTIAN KEPUTUSAN ALLAH

Sabtu, 24 Oktober 2020

Renungan Malam

Bacaan Alkitab  : Ibrani 6 : 17 – 20

Ada ungkapan menyangkut masa depan pada nas bacaan malam ini. Pertama, “mereka yang berhak menerima janji itu” (17). Kedua, “menjangkau pengharapan yang terletak di depan kita”  (18). Itulah yang berlaku pada diri Abraham atas prakarsa TUHAN. Baik itu menyangkut tanah yang akan dimiliki, keturunan maupun kdudukannya di antara bangsa-bangsa. Walaupun itu baru bersifat bayangan namun ia hidup dalam keyakinan kepastian akan Ketetapan TUHAN itu.

Abraham menerima janji Allah tentang kelahiran anak laki-laki baginya. Namun ia harus menanti dengan sabar dan melewati berbagai peristiwa dan rintangan bahkan pencobaan (Kej. 22:12). Untuk itu TUHAN menekankan kembali “dengan sumpah” apa yang dijanjikan-Nya (Kej. 22:15-18). lni adalah gambaran nubuatan tayangan ke masa depan sebagaimana tertulis dalam Yes. 9:5 Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita.

Jauh hari nabi telah melihat wujud nyata apa yang dikehendaki dan dijanjikan TUHAN. Padahal peristiwa itu baru terjadi delapan abad kemudian, ketika Anak itu dilahirkan di Betlehem (Mi. 5:1; Mat. 2:1-6). Masa penantian itu cukup panjang bagi umat di zaman nabi Yesaya dan sesudahnya. Harapan itu bisa saja redup dan lenyap seperti di zaman raja Herodes. Ia terkejut ketika orang Majus dari Timur datang membawa kabartentang kelahiran Anak itu. Lalu diadakanlah penelitian, bahkan pembunuhan anak-anak di Betlehem /Mat.2:1-18). Walau demikian, kepastian keputusan Allah tetap nyata. Keputusan Allah yaitu perbuatan-perbuatan-Nya yang besar, terwujud nyata di era Perjanjian Baru. Kini kita memiliki tugas hakiki untuk rnewartakannya di zaman modern ini.