PEKA TERHADAP KEBUTUHAN SESAMA

Rabu, 30 September 2020

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab  : Amsal 23 : 22 – 23

Budaya Patriaki merupakan sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pemilik atau penguasa atas keluarganya, termasuk harta bendanya. Laki-laki berkarya di luar rumah (rana publik) mencari nafkah. Perempuan di dalam rumah (rana domestik) mengurus tempat tinggal dan mengasuh anak. Budaya patriaki membuat perempuan secara finansial bergantung kepada laki-laki. Anak perempuan bergantung kepada ayah. Istri bergantung pada suami. Ibu janda bergantung kepada anak laki-lakinya. Sekalipun ibu yang mengandung, melahirkan dan mengasuh tetapi anak adalah milik ayah. Perhatikan ciri budaya patriaki dalam ayat 22 saat sang ayah menasihati anaknya, “Dengarkanlah ayahmu yang memperanakkan engkau, dan janganlah menghina ibumu kalau ia sudah tua”. Ibu yang melahirkan, tetapi ayah yang disebut memperanakkan. Setelah tua, nasib Ibu terletak pada hidup anak.
 
Di tengah konteks patriaki ini penulis mengajarkan kita untuk : Pertama : Jangan menghina ibu kita kalau dia sudah tua. Alkitab versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) memakai kalimat, “Apabila ibumu sudah tua, tunjukkanlah bahwa engkau menghargai dia”. Penghormatan dan kasih kepada orang tua tidak boleh putus hanya ketika mereka masih muda dan kuat. Justru di saat sudah tua, mereka sangat membutuhkan perhatian, perawatan dan kasih sayang dari anak-anaknya. Kedua : Belilah kebenaran, hikmat, didikan, pengertian dan jangan menjualnya. Kebenaran dalam bahasa Ibrani adalah tzedakah yang berarti benar, saleh atau adil. Salah satu tindakan tzedakah adalah memberi sumbangan, hadiah, pinjaman atau kemitraan agar penerima dapat menolong dirinya sendiri dan tidak bergantung pada orang lain. Kedua nasihat di atas mengarahkan generasi penerus untuk memiliki kepekaan dan kesediaan menopang mereka yang memerlukan dukungan.