BERHIKMAT DI TENGAH KEANEKARAGAMAN

Rabu, 15 Juli 2020

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : 1 Korintus 8 : 1 – 13

Jemaat Korintus tumbuh dan berkembang di tengah pluralitas masyarakat Korintus, baik dalam bidang sosial, ekonomi, budaya maupun agama. Dalam bidang agama, selain diperhadapkan pada pola keberagamaan Yunani dan Romawi yang bernuansa politheisme (menyembah banyak dewa), mereka juga berjumpa dengan agama-agama yang berasal dari kawasan Timur, seperti Mesir.  Salah satu bentuk peribadahan agama Yunani, adalah penyembahan terhadap Dewi Aphrodite (Venus) dan dewa-dewa lainnya.

Ada warga jemaat Korintus yang merasa memiliki pengetahuan lebih dari yang lain. Alias sok tahu atau berlebihan dalam menilai pengetahuan yang dimilikinya. Sikap ini bisa merusak persekutuan. Apalagi saat masalah muncul ketika itu, hal daging dan makanan yang dipersembahkan dalam ritual berhala. Yang sudah Kristen lama, merasa diri kuat dan merasa bebas saja, karena mereka tahu bahwa berhala itu tidak ada. Namun bagi umat yang baru Kristen, tentunya hal ini menjadi masalah dan bertanya-tanya.

Paulus menasihatkan agar mereka bersikap penuh kasih dalam menanggapi dan bersikap tentang makanan atau daging yang dijual sebagai hasil kurban bagi berhala. Berhala itu tidak ada dan sia sia. Karena Allah di atas segalanya. Mereka semua harus hati hati dalam bersikap dan tetap berhikmat untuk tidak menjadi batu sandungan bagi umat yang masih lemah imannya, serta tidak mudah jatuh ke dalam pencobaan dan dosa.

Sebagai umat Tuhan, termasuk generasi muda, di tengah keaneragaman kita sekarang, sejauh mana, sikap toleransi kita. Khususnya dalam hal makanan yang dipersembahkan dalam ritual keyakinan lain?. Saat ini, diperlukan sikap umat percaya dalam membangun dan merawat keberagaman yang ada, dengan tetap menjaga identitas iman sebagai pengikut Kristus yang setia.