SALING MENANTI

Minggu, 17 Mei 2020

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : 1 Korintus 11 : 33 – 34

Alkisah ada dua pemburu masuk ke dalam hutan. Mereka sama-sama ingin memperoleh hasil buruan yang besar. Keinginan itu membuat mereka berkompetisi, hingga enggan saling menanti ataupun saling menolong seorang terhadap yang lain. Alhasil masing-masing tidak mampu mengangkat hasil buruannya yang berat dan terpaksa membiarkan buruannya itu dilahap oleh hewan buas yang kelaparan di sana,

Dari kisah tersebut kita melihat bahwa menanti sesama jauh lebih baik ketimbang memaksakan diri. Menanti memang membutuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Tanpa kesabaran, proses menanti dipenuhi dengan kejengkelan dan kemarahan. Tanpa kerendahan hati, proses menanti juga dipenuhi dengan peninggian diri. Kondisi inilah yang menyebabkan kita kehilangan berbagai hal berharga laksana pemburu yang kehilangan buruannya!

Orang-orang kaya di Jernaat Korintus enggan menanti sesamanya yang miskin. Mereka ingin menikmati berkat Allah seorang diri dan enggan berbagi. Akibatnya mereka pun kenyang secara jasmani, namun lapar secara rohani. Mereka kenyang oleh makanan dan minuman, namun lapar akan kebersamaan dan persekutuan. Inilah dampak buruk dari sikap enggan menanti sesama yang semata-mata disebabkan oleh keegoisan. kesombongan, keserakahan, dan ketidakinginan untuk berbagi kebaikan.

Itulah sebabnya Paulus menasehati supaya orang-orang kaya tersebut makan dahulu di rumahnya masing-masing, sehingga mereka tidak melukai hati sesamanya yang miskin. Di sini kita mendapati bahwa menanti sesungguhnya bukan hanya latihan badani, melainkan juga latihan batin. Barang siapa sedia menanti demi kebaikan orang lain, ia akan diberkati. Bukan hanya dengan berkat-berkat duniawi yang fana, tetapi juga berkat-berkat sorgawi yang kekal, yaitu cinta kasih, sukacita dan damai sejahtera.

Sudahkah Saudara menanti dengan sabar dan rendah hati? Jika belum, mulailah belajar melakukannya.