Minggu, 17 Mei 2020
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : 1 Korintus 11 : 17 – 23
Pada umumnya proses ujian atau evaluasi dipandang sebagai sesuatu yang berat dan memerlukan persiapan yang matang. Untuk itu dituntut ketekunan dan kerja keras, dengan harapan bisa lulus atau berhasil. Keberhasilan dari sebuah ujian menjadi impian, karena bakal ada kebahagiaan yang tak terkatakan.
Berbagai bentuk peristiwa dapat dijadikan sebagai proses uji atau evaluasi. Berlangsungnya suatu proses ujian ada yang sudah dijadwalkan. tetapi ada juga yang tiba-tiba. Siap tidak siap, ujian pasti dialami. Kita mengenal ada ujian sekolah, tetapi ada juga ujian kehidupan sebagaimana misalnya ungkapan, ujian iman, diuji kesetia-kawanannya, diuji kemampuanmu, diuji perkawinanmu, dsb. Memang ada juga yang takut menghadapi ujian. karena belum siap atau takut ketahuan kekurangannya.
Tentang adanya keributan atau pertengkaran yang berpotensi pada perpecahan jemaat, Paulus sudah mendengarnya. Entah siapa yang mengabari dan bagaimana isi kabarnya, kita tidak tahu, yang jelas sumbernya dipercaya Paulus. Paulus rupanya setuju kalau mereka saling bersitegang, malahan jangan-jangan itupun dikehendaki Tuhan. Itulah ujian mereka. Dengan begitu bisa ketahuan siapa yang sesungguhnya orang Kristen sejati dan siapa yang sekadar berpura-pura. Artinya hidupnya hanya untuk kepentingan dirinya, ini tidak kristiani. Melalui peristiwa perjamuan makan terlihat nilai kristianinya, yakni kepedulian dan belarasa dalam persekutuan (communion).
Marilah waspada dan bersiap diri, sebab salah satu nilai kristiani kita, yakni menghadirkan atau memberi inspirasi damai sejahtera bagi sesama, akan selalu diuji. Seseorang yang cenderung mementingkan dirinya, memberi panggung munculnya ketegangan, pertentangan dan akhirnya perpecahan. Tapi tak masalah bila harus berada dalam pertentangan, pasti ada hikmahnya demi memaknai kesetiaan iman. Kristen sejati menjaga persekutuan; dan warga Negara sejati akan memelihara persatuan.