Sabtu, 16 Mei 2020
Renungan Malam
Bacaan Alkitab : Yakobus 4 : 6 – 10
Beberapa kali saya diundang berkhotbah tetapi sering juga dibuat kesal oleh pihak penyelenggara ibadah. Satu kali, saya melayani ibadah rutin karyawan di salah satu hotel. Begitu tiba di tempat ibadah seorang pengurus menghampiri saya dan mendadak meminta lagu-Iagu ibadah. Dengan spontan sekaiigus menegur, saya katakan, “Lho?! Jadi kalian belum siapkan lagu-lagunya?” Tetapi jawabannya, “biasanya disiapkan PF-nya atau dicari bersama.“. Untung persekutuan itu punya buku pujian tetapi saya tetap mengingatkan agar lain kali polanya tidak seperti ini.
Saya terkejut sewaktu kami menyusun lagu-lagu dari buku pujiannya, dia main tunjuk, “yang ini aja pak!” Yang jadi soal, lagu-lagu yang ditunjuk, gak pas dengan isi khotbah. Setelah agak lama kami memilih, saya menyampaikan bahwa 99% lagu di sini muatan syairnya panyembahan. Setelah ibadah, kami minum kopi. Di situ ia memperlanyakan maksud komentar saya tadi mengenai “syairnya penyembahan”. Pikir saya, akhirnya ada juga kesempatan untuk menjelaskan soal asal pilih lagu. Kesan saya, meski badan bergoyang tapi belum tentu syairnya memperbaharui hidup. Hanya sekadar bernyanyi. Syair yang “dominan penyembahan” adalah istilah untuk menjelaskan bahwa syair dalam buku nyanyian itu melulu mengarah pada ritual penyembahan yang bernuansa vertikal.
Karena dia warga GPIB maka saya ajak untuk memperhatikan nyanyian-nyanyian misalnya dalam KJ, GB, NKB, PKJ. Dalam buku-buku nyanyian tersebut, syairya seimbang, ada nuansa horizontalnya, yakni pegutusan ke dalam dunia serta panggllan berkarya demi mengungkapkan kesaksian iman. Kadang, banyak orang lebih membangun kesalehan ritual tetapi tidak belajar untuk mewujudkan kesalehan moral. Mewujudkan hidup suci dan saleh lahir-batin di hadapan Allah seharusnya juga teraktualkan dalam kesucian prilaku dan tuturannya.