KARUNIA KHAS

Rabu, 13 Mei 2020

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : 1 Korintus 7 : 8 – 9

Kawin tidak ya? Umumnya nasihat yang dlsampaikan kepada yang masih lajang adalah supaya segera kawin, maksudnya berumah tangga. Tldak kawin dianggap pilihan hidup yang gak normal. Normalnya setiap orang harus kawin. Begitu anggapannya. Lalu bagaimana dengan pastor atau Imam Katolik? Orang yang tidak paham akan berkomentar. “itu gak wajar. karena ..melawan perintah Kejadian 1:24”.. Bagaimana dengan Paulus yang merasa sangat gembira kalau ada orang yang memilih jalan hidup tidak kawin seperti dirinya. Tentunya, pilihan hidup yang dijalani oleh mereka pastor/imam Katolik adalah hidup berkaul (janji) untuk selibat. Selibat tidak sama dengan tidak kawin. Ada orang yang tidak kawin, tetapi tidak selibat. Selibat adalah suatu cara untuk mencinta meski dirinya sulit untuk menjelaskannya tetapi konkrit dalam tindak kehadiran di antara sesama. Selibat adalah ungkapan mencinta yang terbuka, yang dihayati dalam persahabatan dengan semua orang bebas mengadakan relasi dengan mempersembahkan dan mengurbankan sesuatu yang bermakna bagi banyak orang di sekitarnya.

Pada satu sisi. kawin atau tidak kawin merupakan pilihan bebas setiap pribadi namun pada sisi lain, menurut Paulus, ada intervensi Allah. Dengan mengatakan bahwa “tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu” (ay.7), Paulus menunjukkan penilaian positif terhadap intervensi Allah yang mengantar setiap orang pada kebebasan, terlepas dari apapun pilihan jalan hidupnya. Hidup seperti Paulus dalam kebebasan dari hawa nafsu adalah karunia Allah tetapi pilihan untuk kawin (berumah tangga) itu juga suatu karunia Allah. Keduanya itu adalah pllihan hidup. Kawin (berumah tangga) atau tidak kawin adalah karisma dan menjadi panggilan untuk melaksanakan kehendak Allah.