KASIH SEJATI

Minggu, 5 AprilĀ  2020

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Lukas 6 : 37 – 38

Kasih merupakan ajaran utama kekristenan. Ada kasih kepada Tuhan. Ada kasih kepada sesama. Kita menyatakan kasih kepada Tuhan dengan cara mengasihi sesama. Kasih kepada sesama dilakukan sebagai wujud cinta kasih kita kepada Tuhan. Karenanya, segala sesuatu yang kita lakukan untuk sesama harus dilakukan dengan kerendahan dan ketulusan hati sebagai cerminan kasih sejati yang telah diterima dari Tuhan Yesus.

Kita adalah manusia yang berdosa sehingga sebenarnya kita layak untuk dihakimi dan dihukum. Tetapi Tuhan Yesus bukannya menjadi Hakim bagi kita malah menjadi Pembela. Dengan pengorbanan-Nya di kayu salib Ia menebus kita dari segala dosa.

Kita tidak jadi dihukum. Bahkan dalam iman kepada-Nya Ia memberi jaminan keselamatan dan kehidupan kekal. Di minggu prapaskah yang terakhir ini kita menghayati kasih-Nya yang besar itu. Kasih yang Sejati. Kasih sejati tidak tertuju kepada diri sendiri tetapi mengarah keluar. Itu berarti kesediaan untuk selalu memberi. Bukan hanya dalam bentuk materi tetapi juga yang non materi. Memberi maaf, memberi waktu, memberi telinga (kesediaan untuk mendengar keluh kesah seseorang, dll).

Kasih sejati yang diajarkan dan dipraktekkan Tuhan Yesus harus menjadi pedoman hidup kita. Karena itulah firman Tuhan mengajarkan untuk tidak menghakimi dan menghukum karena Tuhan Yesus juga tidak menghakimi dan menghukum kita. Ia yang kudus, suci dan mulia tidak menghakimi dan menghukum kita. Sebagai orang berdosa, masakan kita dapat menghakimi dan menghukum orang lain? Itulah yang dinyatakan pada ayat 41, “Mengapakah engkau melihat selumbar di dalam mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu sendiri tidak engkau ketahui?”

Para sidi baru dan kita semua diminta untuk mengarahkan hati guna mengambil bagian dalam Sakramen Perjamuan Jumat Agung. Di dalamnya kita menghayati Kasih Sejati dan diminta untuk melakukannya dalam kehidupan sehari-hari.