Minggu, 29 Maret 2020
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Ratapan 1 : 1 – 17
Di era informasi rasa kesepian dan ditinggalkan adalah bagian terberat dalam kehidupan manusia. Perasaan ini juga dialami oleh Israel di era pembuangan dimana Bait Allah dihancurkan dan sekutu Israel tidak lagi hadir sebagai pembela. Keadaan ini semakin membawa Israel pada kesadaran atas kenajisannya dan mengantar mereka pada kesadaran diri terhadap perbuatan dosa mereka di hadapan Tuhan.
“Lihatlah ya Tuhan”, merupakan ungkapan teriakan Israel di tengah rasa kesepian dan ditinggalkan ketika hukuman Tuhan berlaku atas mereka. Dampak hukuman itu dirasakan oleh semua golongan dalam kehidupan bangsa lsrael balk orang tua maupun anak-anak, raja maupun rakyat dan tidak terkecuali para imam. Para imam merasa tersiksa dengan kesunyian dan ditinggalkannya kota Yerusalem. Mereka sebelumnya terbiasa dengan keramaian bahkan dengan kemegahan Bait Allah. Bagi Allah sendiri, lebih baik bangsa Israel menjadi sepi, Bait Allah kehilangan kemegahan jika dengan cara itu menghasilkan kesadaran dari bangsa Israel. Para imam juga disadarkan bahwa Tuhan bisa tidak berpihak pada keramaian dan kemegahan peribadahan karena belum tentu menggambarkan ketaatan dan kebenaran umat.
Saudara, Tuhan lebih menyukai para pelayan-Nya memiliki kesadaran hidup benar dihadapan-Nya dibanding hidup dalam kemegahan dan keramaian beribadah. Hidup dalam ketaatan dan kebenaran menunjuk pada kualitas iman. Di Minggu prapaskah ini, hendaknya seluruh pelayan merenungkan kembali orientasi pelayanan bersama apakah kualitas pelayanannya semakin berkenan dihadapan Tuhan atau hanya terlihat sebagai keramaian dan kemegahan saja? Mari kembali merenungkan simbol salib yang sederhana tetapi mengandung kekuatan yang mengundang orang untuk bertobat dan percaya pada keselamatan Allah. Apakah kehadiran kita sudah menjadi bagian yang mengundang orang lain bertobat dan percaya pada keselamatan Allah?.