Minggu, 27 Maret 2022
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Matius 12 : 9 – 15a
Domba bagi orang Israel adalah ternak yang sangat berguna, sebab itu dirawat dengan baik. Dari bulu, kulit, susu, daging dan tanduk dimanfaatkan orang Israel. Karena domba merupakan ternak yang sangat bermanfaat, maka apabila ia jatuh ke lubang pada hari sabat apa yang harus dibuat? Ada rabi yang tidak memperbolehkan domba itu diangkat, namun tetap diberi makan dan setelah Sabat dapat dikeluarkan. Ada juga pandangan yang memperbolehkan domba yang jatuh itu diselamatkan, walau pada hari Sabat. Dari dua pandangan tersebut, terlihat bahwa domba sangat dihargai dan diistimewakan pada hari Sabat. Dalam terang itulah kita memahami teks ini: Bukankah manusia jauh lebih berharga dari domba? Kalau domba saja bisa mendapatkan pertolongan, apalagi manusia yang istimewa di hadapan Tuhan. Itulah sebabnya, manusia juga harus mendapatkan perlakuan dan perhatian yang sama, karena ia jauh lebih berharga dari domba.
Di dalam kegiatan bergereja, kecenderungan mengabaikan manusia karena “Sabat”, atau peraturan, sering terjadi. Kita sering terbuai dengan aturan gereja selama ini, padahal ada banyak orang yang sedang membutuhkan uluran tangan. Bayangkan saja, mungkin disekitar gereja ada orang yang sedang sulit untuk mendapatkan makanan, disaat warga jemaat sedang sibuk dengan urusannya. ltulah sebabnya Rasul Yakobus berkata,” ibadah yang murni dan tak bercacat dihadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan mejaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia (Yak 1 : 27). Jadi menolong orang lain yang sedang dalam keadaan susah, itulah ibadah kita. Bukan hal yang ritual yang Allah inginkan saja dalam hidup ini, melainkan aplikasi hidup yang menjadi berkat bagi orang lain.