Minggu, 19 Desember 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Yesaya 2 : 1 – 5
Kitab Yesaya diawali dengan seruan berupa kecaman serta nubuatan penghukuman, karena kejahatan Yehuda. Dalam kesombongannya, mereka menolak Allah. Mereka melakukan berbagai kejahatan seperti kebejatan moral, ketidakadilan sosial dan kemunafikan dalam kehidupan keagamaan. Terhadap semua kejahatan itu, Allah menyerukan “penghukuman”.
Di tengah berita penghukuman, Yesaya menubuatkan Sion sebagai pusat kerajaan damai. Pada ayat 3 terungkap sebuah gambaran tentang umat Tuhan sebagai kaum yang telah menerima pengajaran hukum-Nya. Karena itu seyogianya mereka menjadi contoh bagaimana harus hidup sesuai kehendak Tuhan. “Sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem.” Jadi, selain bangsa-bangsa mencari Tuhan dan Firman-Nya di Sion, mereka juga akan belajar praktek hidup yang benar dari umat-Nya. Pada ayat 4 terungkap TUHAN akan mengadili dengan adil dan seluruh kaum dapat hidup dalam perdamaian. Nubuatan ditutup dengan ajakan, agar umat berjalan dalam firman TUHAN (ayat 5).
Belajar dari perikop ini, maka beberapa hal yang bisa dipetik :
- Jika dalam nubuatan dinyatakan Sion sebagai pusat kerajaan damai, di sana TUHAN hadir dan memerintah serta umat-Nya memberikan keteladanan bagaimana hidup benar, maka pada masa kini orang percaya dipanggil untuk menjadi teladan bagi sesama. Orang percaya menghadirkan diri sebagai pribadi dan persekutuan yang terus mengupayakan praktek hidup yang benar serta mengucahakan perdamaian dalam relasi dengan sesama, agar melalui hidup kita, TUHAN dimuliakan.
- Hiduplah dalam persekutuan dengan Tuhan, belajarlah Firman-nya dan praktekkan dalam hidup setiap hari, agar kita dapat menjadi pembawa damai.
- Jalanilah kehidupan setiap hari dalam terang Firman Tuhan dan tuntunan Roh Kudus, agar hidup kita dapat menjadi teladan bagi sesama.