Selasa, 7 Desember 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Yesaya 40 : 25 – 28
Nabi Yesaya berhadapan dengan orang-orang yang mengalami penderitaan di negeri asing. Mereka kecewa terhadap Allah. Mereka terkurung dalam perasaan hatinya dan tidak mampu lagi memandang masa depan mereka. Karena itu mereka menolak nubuatan Yesaya bahwa TUHAN akan segera melepaskan umat-Nya dari pembuangan Babel. Mereka tidak percaya lagi dan ingin melihat bukti nyata tentang tindakan Allah.
Ungkapan penyesalan diri umat Israel yang terbuang dan merasa kehilangan identitas dirinya, nampak dalam ayat 27b: “Hidupku tersembunyi dari TUHAN, dan hak-ku tidak diperhatikan ALLAHKU!”. Keluh kesah diungkapkan oleh sebagian orang yang menderita dan mengalami tekanan dan beratnya pergumulan mereka. Di manakah TUHAN saat kami berteriak meminta pertolongan? Seolah-olah TUHAN tak peduli dan tidak memperhatikan seruan umatNya. Benarkah demikian?
Hidup memang tak pernah lepas dari berbagai pergumulan dan masalah. Musibah, wabah dan sakit penyakit datang menerpa manusia. Kesulitan ekonomi dan penderitaan hidup lainnya datang silih berganti. Yesaya menegur, mengingatkan umat bahwa Allah tidak seperti yang mereka pikirkan dan katakan. Dengan bersoal jawab, sang nabi menyatakan bahwa keluh kesah mereka merupakan perkataan buruk terhadap kehadiran dan kasih Allah dalam hidup mereka. Allah pencipta, penguasa hidup dan pengatur segala semesta. Dengan kasih-Nya, Ia tanpa lelah dan letih lesu terus memelihara umat-Nya. Mengapa umat yang menderita karena kesalahannya malahan menyatakan Allah bersembunyi dan tak peduli kepada mereka?
Untuk memberi keyakinan kepada umat nabi mengingatkan kembali agar mereka memandang semua ciptaan TUHAN seperti bintang-bintang di langit yang diatur-Nya dengan sangat sempurna. Ia punya kuasa untuk dapat melakukan segala perkara di luar jangkauan pikiran manusia yang terbatas.