Rabu, 3 November 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Wahyu 2 : 18 – 23
Kita memiliki kebebasan untuk menentukan jalan-jalan hidup kita, tetapi sayangnya kita tidak dapat memilih konsekwensi dari pilihan-pilihan itu (Covey:1989). Konsekuensi tergantung pada keputusan dan pilihan yang kita buat. Terkadang konsekuensi sungguh di luar dugaan. Dalam perikop bacaan kita pagi ini Tuhan mengatakan “Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya” (ayat 23b). Tuhan mengatakan DIA menguji bukan mendikte. Ibarat ujian semester atau ujian masuk perguruan tinggi, menguji berarti memberi ruang pada yang diuji untuk membuat pilihan. Dan ketika seseorang akan memutuskan apa yang dia pilih orang itu mengalami proses menimbang nimbang yang melibatkan informasi, nalar, emosi dan iman.
Pembaca yang budiman, batin dan pikiran kita adalah ibarat arena pertarungan. Dalam setiap pertimbangan untuk pengambilan keputusan ada nilai-nilai dan prinsip-prinsip, juga perasaan yang memengaruhi. Di kalbu ini terjadi percakapan dengan diri sendiri. Berkecamuk pikiran dan perasaan yang saling bertentangan. Tuhan mendengar dan memahami dialog dan pertarungan ini. Ada senjata dan sumber kekuatan yang harus dikerahkan untuk bisa memenangkan suatu pertempuran. Sebagai orang percaya senjata dan kekuatan itu telah Allah karuniakan dalam diri kita yakni Roh Kudus.
Perbuatan adalah hasil dari waktu dan proses pengelolaan berbagai masukan yang kita serap. Kita bisa mengira-ngira risiko dan konsekuensi dari setiap keputusan, namun kita sama sekali tak punya kuasa untuk menentukan atau mengendalikan konsekuensinya. Walau demikian kita dapat menentukan cara, nilai, keyakinan, dan informasi yang kita gunakan dalam membuat pilihan. Karena itu kendalikan proses dengan kuasa Roh Kudus sehingga konsekuensi pilihan-pilihan kita berbuah kebaikan dan berkat.