Senin, 1 November 2021
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Wahyu 2 : 12 – 13
Siapa yang tidak gentar berada di suatu tempat yang disebut ‘takhta iblis’? Bayangkan, betapa luar biasa kegelapan dan ketakutan kita jika berada di tempat yang dimetaforkan demikian. Itulah situasi yang terjadi pada jemaat di Pergamus. Firman menyebut bahwa mereka berada di tempat- yang dalam teks Yunani dikatakan thronos tou satana (ayat 13)- tahta setan. Allah juga mengingatkan jemaat Smirna bahwa Iblis akan melemparkan beberapa dari mereka ke dalam pencobaan dan kesusahan (Wahyu 2:10). Allah melihat betapa kokoh iman jemaat Pergamus. DIA menyaksikan bagaimana kesetiaan dan keteguhan hati mereka berpegang pada nama-Nya.
Alkitab menyebut beberapa nama atau karakter setan, di antaranya: jahat, penggoda, pembohong, bapa segala dusta, penipu, penguasa dunia, belzebul, si jahat dan penuduh. Sepanjang kehidupan orang beriman dan para murid serta jemaat-jemaat Tuhan sepanjang zaman dan di manapun, ada kalanya hidup mereka bagai terperangkap di suatu tempat yang penuh dengan hal-hal jahat, dusta, tipu daya, godaan, cobaan, sakit-penyakit, persekusi, penghinaan dan kesulitan lainnya. Kebencian, fitnah, diskriminasi, pelecehan menghadang bahkan menjegal langkah-langkah mereka. Hidup sungguh berada dalam lembah thronos tou satana.
Kesaksian hidup jemaat Pergamus menegaskan kepada kita bahwa bukan kekuasaan yang sedang menginjak kita, bukan buruk dan jahat tempat kita berada, juga bukan hal-hal jahat dan batu-batu penghakiman yang dilontarkan oleh orang-orang di sekeliling kita, yang menentukan respon dan menjadi siapa diri kita. Melainkan, pada apa dan kepada siapa kita berpegang serta meletakkan kesetiaan. Pemazmur memahami benar hal ini. Dan dengan imannya dia bernyanyi “Sekalipun aku berjalan di dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya sebab Engkau besertaku” (Mzm 23:4).