CUMA SATU YANG KEKAL, FIRMAN ALLAH

Rabu, 11 November 2020

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Yesaya 40 : 1 – 8

Kerentanan dan kerapuhan menjadi tema penting dalam percakapan tentang manusia pada satu dasawarsa terakhir. Di satu sisi, hal ini baik karena manusia semakin sadar, bahwa ia ternyata makhluk yang tak sempurna. Di sisi lain, kesadaran itu mengungkap sebuah kenyataan, bahwa hidup di hari ini sarat dengan tantangan berupa bencana dan penderitaan, contohnya akibat dari pandemi Covid- 19. Manusia tak kuasa atas Covid-19, karena pada dirinya ia rentan dan rapuh. Seolah-olah rentan dan rapuh adalah dua hal yang Allah tanamkan sejak manusia diciptakan.
 
Kerentanan dan kerapuhan adalah dua hal yang juga diungkap oleh Yesaya. Dalam rangka berbicara tentang keselamatan bagi Yehuda – setelah mereka mengalami hukuman pembuangan. Yesaya pertama-tama mengingatkan tentang hakikat manusia sebagai makhluk yang tidak kekal. Simbolisasi ketidakkekalan itu adalah “rumput” dan “bunga”, yang akan kering dan layu. Itulah nasib manusia yang rentan, rapuh dan bisa mati. Sekalipun demikian, Allah memberi manusia bagian dari “hidup ilahi”, yaitu nafas-Nya (ay.7). Nafas atau Roh Allah inilah yang membuat manusia selalu hidup akrab dengan firman-Nya, dan terus rindu taat serta memuIiakan-Nya.
 
Tantangan terbesar untuk hidup di dalam firman-Nya yang kekal adalah diri manusia sendiri, yaitu jalan hidup yang tidak lurus (ay.3-5). Dengan manusia terus terarah pada firman Allah yang kekal, maka karya keselamatan Allah menjadi nyata.