SEMUA ADALAH UMAT ALLAH

Selasa, 10 November 2020

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : Imamat 21 : 16 – 24

Perkembangan Hak Asasi Manusia (HAM) secara universal turut memengaruhi perkembangan ilmu tafsir atas leks-teks suci keagamaan, termasuk dalam Alkitab Kristen. Penerimaan pada keberadaan manusia sejak lahir, yang diyakini sebagai sesuatu yang given (anugerah), tidak boleh dikurangi oleh siapapun. Sebab dalam tata penciptaan Tuhan, semuanya adalah balk adanya. Tradisi Kristen juga mencatat, bahwa keadaan fisik seseorang apapun itu tidak mengurangi kasih Tuhan bagi orang tersebut termasuk ke dalam umat Tuhan yang diberi janji keselamatan dan hdup kekal.

Salah satu peraturan tentang imam yang sangat ketat adalah terkalt dengan “kekurangan” anggota tubuh. Setelah Harun dinyatakan sebagal imam, maka status keimamannya itu tidak hanya mengikat dirinya, melainkanjuga keturunannya. Maksudnya, agar mereka mempersembahkan seluruh hati, jiwa dan tubuh bagi kemuliaan Allah. Sekalipun perihal “kecacatan” menghalangi seseorang datang mendekat untuk memberikan persembahan kepada Allah (baca ay.17,21:”janganlah datang mendekat untuk mempersembahkan. ..”), terasa kontroversial, namun penegasan Yang Ilahi “Akulah TUHAN, yang menguduskan mereka” seolah menjadi jawaban. Jika TUHAN yang Mahakudus menghendakinya, maka Ia pun dapat menguduskan dan melayakkan mereka semua, yang dan sudut peraturan imam tidak layak untuk menjadi umat-Nya. Mereka pun dapat mempersembahkan korban yang memuliakan Tuhan.

Kekudusan Allah bersifat merangkul dan menyembuhkam siapapun, termasuk para penyandang disabilitas, tidak ada yang ditolak menjadi umat Tuhan, karena semua orang diciptakan unik dan khas, serta layak datang mempersembahkan hidupnya kepada Tuhan.