MEMBERI HORMAT SECARA PANTAS

Sabtu, 7 November 2020

Renungan Malam

Bacaan Alkitab : 2 Korintus 2 : 5 – 11

Dalam kehidupan manusia, iblis adalah konsep yang dapat menjadi ‘kambing hitam’ dan ‘penyelamat’. Perbedaan di antara keduanya sangat tipis. Jika seseorang melakukan kesalahan, maka ia akan menyalahkan iblis. Hal ini membuat kekurangan dari orang itu tertutup. Begitu juga saat seseorang gagal melakukan kebaikan, maka iblis adalah penyebab dari hal itu. Iblis merupakan penyebab seseorang melakukan hal yang bodoh. Kegagalan orang itu tidak terlihat. Kelemahan orang itu diselamatkan dengan ‘mengkambing-hitamkan’ iblis. Sikap manusia yang seperti ini tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik bagi dirinya. Ia semakin terpuruk dan menjauh dari kehidupan yang benar.
 
Dalam keadaan yang sulit, Paulus tetap mendidik rekan-rekan sepelayanannya untuk tidak memberikan ruang bagi iblis. Tujuan iblis tidaklah sama dengan maksud Tuhan. Tujuan iblis adalah menjauhkan manusia dari kehidupan yang takut akan Tuhan. Sebaliknya, Tuhan ingin agar manusia hidup dekat dengan-Nya. Artinya, manusia menjadikan Tuhan sebagai penuntun kehidupan. Rencana Tuhan adalah rancangan damai sejahtera (Yeremia 29 : 11). Paulus tidak ingin iblis mendapat peluang untuk turut berperan dalam kehidupan umat Tuhan.
 
Saat GPIB merayakan ulang tahun ke-72, GPIB harus mengingat bahwa tidak semua gereja dapat bertahan dengan baik. Jejak-jejak kehidupan Yesus di tempat Ia hidup tidak bertahan selamanya. Para pengikut Yesus pun tidak hidup selamanya. Banyak gereja yang sudah tidak lagi merayakan hari ulang tahunnya. Banyak gereja juga yang sudah hilang dari peradaban. Pertanyaannya, apakah GPIB akan mengalami hal yang sama? Untuk menjawab pertanyaan ini, GPIB perlu untuk merenungkan satu hal. GPIB perlu untuk mengawasi, apakah iblis memperoleh keuntungan sekecil apa pun dalam kehidupan jemaat-jemaat sejauh ini?