IMAN, WARISAN INTANGIBLE

Jumat, 2 Oktober 2020

Renungan Malam

Bacaan Alkitab  : 1 Samuel 17 : 37 – 39

UNESCO merupakan organisasi di bawah PBB yang membidangi pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan serta bertujuan meningkatkan rasa saling menghormati berlandaskan keadilan, hukum dan HAM. Pada tahun 2009 organisasi internasional ini menetapkan batik sebagai Masterpieces of the Oral and the Intangible Heritage of Humanity (Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi). Sejak penetapan itu, tanggal 2 Oktober diperingati sebagai hari batik sedunia. Layaklah jika kita bangga, karena batik diakui dunia sebagai warisan budaya yang lisan dan intangible. Intangible adalah aset yang tidak berwujud atau tidak dapat dihitung secara fisik. Batik ada tampilan fisiknya, tetapi nilainya jauh lebih berharga dari yang nampak. Nilai intangible batik terletak pada filosofi, simbol-simbolnya, dan nilai-nilai luhur yang diteruskan secara turun temurun.
 
Salah satu bentuk warisan intangible adalah iman. Secara fisik iman tidak kelihatan tetapi pengaruhnya terlihat dalam sikap hidup. Iman sebagai warisan intangible dari Isai nampak dalam keyakinan Daud, bahwa Tuhan yang melepaskannya dari cakar Singa dan cakar beruang, akan melepaskan dia juga dari tangan orang Filistin. Pernyataan iman Daud membuat Saul menjadi percaya lalu memberi restu dengan berkata “pergilah Tuhan menyertai engkau”. Selain merestui, Saul juga membekali anak muda itu dengan baju perang miliknya. Daud menghargai niat baik sang raja. Ia mengenakan baju yang diberi serta mencoba berjalan. Narnun demikian, ia kemudian melepaskannya dan secara terbuka menyampaikan, bahwa dia merasa lebih nyaman menggunakan apa yang ada pada dirinya.
 
Iman Daud sebagai warisan intangible membuatnya berani menghadapi persoalan, memberikan ketenangan bagi sesama, menghargai pendapat orang lain. Ia pun berani berkata jujur, termasuk dalam hal menyatakan pendapat yang berbeda. Bagaimana dengan iman yang kita miliki?