LINGKARAN KEKERASAN

Sabtu, 11 Juli 2020

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Hakim-Hakim 15 : 1 – 8

Siapakah yang suka diperlakukan dengan semena-mena? Tidak ada!. Setiap orang menginginkan hidup sejahtera, aman dan bahagia. Meski demikian, ada saja orang yang gemar mencari gara-gara dengan mencampuri dan merusak kehidupan orang lain.

Inilah yang terjadi dalam kisah rumah tangga Simson. Perkawinan Nazir Allah dari suku Dan itu kandas Karena perbuatan ayah mertuanya. Ia menyerahkan putrinya yang masih berstatus
isteri Simson kepada laki-laki lain. Ibarat barang, perempuan itu tidak berdaya melawan kuasa patriarkhi yang mengaturnya. Ia kalah suara untuk menolak kehendak ayahnya.

Simson yang mengetahui kebenaran itu naik pitam. Kamarahan telah menguasai dirinya hingga melumpuhkan kemampuannya untuk berpikir jernih dan bertindak adil. Ia pun membakar seluruh ladang gandum dan kebun orang Filistin kendati mereka sama sekali tidak terlibat daiam parsoalan pribadi yang sedang terjadi.

Lingkaran kekerasan semakin menjadi-jadi. Orang Filistin sepakat membalas perbuatan Simson dengan cara keji. Mereka membakar hidup-hidup sang ayah mertua dan putrinya, yakni parempuan yang kembali kehiiangan suara di hadapan massa. Tidak punya daya apapun hingga terpaksa pasrah menjadi alat pemuas amarah.

Apakah amarah itu berhenti? Sarna sekali tidak Simseon, sang Hakim, kembali main hakim sendiri. Nyawa ganti nyawa. Demikianlah ia menuntut keadilan bagi dua orang yang ternyata sangat dikasihinya. Simson memukul orang-orang Filistin dengan hebat. Ia bahkan meremukkan tulang-tulang mereka (ayat 8).

Saudaraku. kisah pilu ribuan tahun lalu ini menyadarkan kita tiga hal. Pertama, perbuatan semena-mena hanya mendatangkan celaka dan kematian. Kedua, amarah selalu menutupi akal sehat dan melumpuhkan kita untuk berbuat benar. Ketiga, kekerasan bukanlah jalan menunjukkan kehebatan. Kekerasan adalah bukti kebodohan!