TANGAN TUHAN YANG TERULUR

Rabu, 29 April 2020

Renungan Pagi

Bacaan Alkitab : Yehezkiel 37 : 15 – 23

Apa yang dirasakan oleh seseorang ketika ia mengalami kelatuhan? Sudah pasti sakit, lalu kemudian malu atau bahkan putus asa karena tidak bisa bangkit lagi. Jatuh adalah kondisi yang tldak nyaman bagi siapapun. Lalu, apa yang diinginkan orang ketika dalam kondisi jatuh? Sudah pasti mengharapkan pertolongan orang lain, pemuiihan dan kemudian mampu bangkit lagi. Ya, uluran tangan sangat dibutuhkan saat mengalami kejatuhan.

Inilah sesungguhnya yang dialami oleh Israel Selatan atau Yehuda ketika mereka mengalami pembuangan di Babel. Mereka dalam kondisi jatuh dan kehilangan pengharapan (ay.11). Sebagai suatu bangsa mereka sudah tidak dlakui lagi. Tembok Yerusalem yang runtuh sebagal simbol batas negara, menandakan lsrael bukan suatu bangsa yang eksis lagi. Yah, mereka hancur dan hilang. Lalu tiha-tiba melalui Yehezkiel, TUHAN menjanjikan pemulihan sebagai sualu bangsa (ay.15-19). Bukan itu saja, pembaharuan dan pemulihan akan dilakukan Tuhan dalam kehidupan spiritual umat juga (ay.23). Hal tersebut dimulai dari rencana Tuhan yang akan menjemput umat-Nya dari pernbuangan (ay.21), dan membawa pulang mereka ke tanah mereka sendiri.

Ya, ketika Israel mengalami kejatuhan, TUHAN tidak mangabaikan mereka. Tangan Tuhan terulur untuk memberikan pertolongan. Mereka dijanjlkan mengalami pemulihan sebagai suatu bangsa dan hubungan dengan Tuhan dibarui. Jika Tuhan mengulurkan tangan-Nya, segala sesuatu dipastikan menjadi baik kembali. Jika Tuhan mengulurkan tangan-Nya, maka semua yang rusak pastl diiperbaiki. Tidak ada yang tidak blsa dipulihkan jika Tuhan sudah turun tangan.

Persoalan panting saat ini adalah, ketika Tuhan mengulurkan tangan, apakah kita bersedia “mengangkat tangan” menyambut uluran pertolongan Tuhan? Menyambut tangan Tuhan itu dilakukan dengan pertobatan dan pembaharuan hidup. Jika Tuhan ulurkan tangan-Nya, maka sambutlah.