Sabtu, 28 Maret 2020
Renungan Pagi
Bacaan Alkitab : Habakuk 3 : 1 – 16
Tuhan, berilah aku ketenangan untuk menerima hal-hal yang tidak dapat aku ubah, keberanian untuk mengubah hal-hal yang aku bisa, dan kebijaksanaan untuk mengetahui perbedaannya. Demikianlah penggalan dari Prayer for Serenity karya Reinhold Niebuhr, teolog Protestan, tahun 1940-an. Doa inl mengandung keyakinan kepada kuasa Tuhan sekaligus harapan akan hikmat dari-Nya untuk melakukan setiap karya dengan bijaksana.
Dalam doanya kepada TUHAN, Nabi Habakuk menyadari bahwa tidak ada yang dapat Ia Iakukan selain menerima penggenapan keadilan TUHAN dengan Iapang dada. Kendatipun ia merasa gentar terhadap hukuman TUHAN atas Yehuda, namun refleksi atas perjalanan Israel di masa lalu meneguhkan imannya. Habakuk tidak mau berputus asa, sebab la percaya: TUHAN yang menghukum Israel adalah TUHAN yang sanggup memulihkan umat-Nya. TUHAN akan menolong Yehuda sama seperti IA telah menyelamatkan leluhur mereka dari perbudakan di Mesir. Fakta sejarah ini menyedarkan Habakuk bahwa TU HAN sungguh berdaulat dan IA mengatur segalanya.
Saudaraku, kekuatiran dan ketakutan saat mengalami pergumulan seringkali melemahkan iman percaya kita kepada TUHAN. Padahal kita tahu bahwa kekuatiran dan ketakutan tidak dapat menyelesaikan pergumulan kita. Karena itu, bersikaplah seperti Habakuk. Tenangkan hati dan berdoalah. Hadapilah segala sesuatu dengan iman. Hal-hal yang merisaukan kita, terimalah dengan lapang dada sebagai proses pembentukan yang TUHAN ijinkan. Saat kita tidak bisa mengubah hal-hal yang sudah terjadi, tetaplah bersyukur atas kesempatan yang masih TUHAN beri untuk kita berintrospeksi dan memperbaiki diri. Tetaplah belajar dari setiap peristiwa yang terjadi agar kita menjadl pribadi yang lebih baik lagi. Jangan cemas ataupun kuatir, sebab hidup kita ada dalam kendali TUHAN yang maha kasih dan adil.